yang buka blog gue :

Senin, 02 Januari 2012


fOTO Nasib Para Penghuni Gerbong Kereta Bekas

Tahun baru, harapan baru. Adakah harapan bagi warga miskin di gerbong kereta bekas ini?

SENIN, 2 JANUARI 2012, 10:06 WIB
Anggi Kusumadewi
Penghuni gerbong kereta bekas di Kampung Bandan, Jakarta Utara (VIVAnews/Fernando Randy)
VIVAnews – Selamat datang tahun 2012. Tahun baru, harapan baru. Semestinya hal itu berlaku untuk semua orang, termasuk warga miskin yang terpaksa tinggal di gerbong kereta bekas di Kampung Bandan, Jakarta Utara, karena ketidakberpunyaan mereka.

Inilah sisi lain Ibukota Jakarta yang gemerlap. Di Kampung Bandan, kaum miskin memanfaatkan gerbong kereta bekas sebagai ‘rumah’ mereka. Tentu saja, ‘rumah’ itu tidak dilengkapi dengan fasilitas listrik dan air bersih untuk menunjang kehidupan mereka.

Lihat kehidupan warga miskin Ibukota yang tinggal di gerbong kereta bekas di tautan foto berikut. Para warga tak berpunya ini tak mampu membayar sewa tempat tinggal macam kontrakan akan kos-kosan di Jakarta, sehingga menjadikan gerbong kereta bekas sebagai alternatif.

Tentu saja ini menjadi pekerjaan rumah berat bagi para bakal calon Gubernur DKI Jakarta yang sejak sekarang sudah mengambil ancang-ancang untuk bertarung di tahun 2012 ini. Bisakah Gubernur DKI Jakarta mendatang mengentaskan kemiskinan di Ibukota, atau setidaknya mempersempit kesenjangan sosial yang begitu nyata di kota sesak itu?

Pada tahun 2011 yang baru saja berlalu, Pemerintah DKI sebetulnya sudah menjanjikan penyediaan anggaran bagi warga miskin. Total anggaran itu berkisar hingga Rp13,3 triliun. Bappeda DKI Jakarta menyebutkan, alokasi anggaran utamanya akan didistribusikan untuk sektor pendidikan dan kesehatan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri, di penghujung tahun 2011, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengentaskan kemiskinan di negeri ini.

“Kerja keras untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. Saya juga mengajak pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan masayrakat. Apa yang belim kita raih di tahun 2011, mari kita tingkatkan,” kata SBY di Jakarta, Sabtu 31 Desember 2011 pekan lalu.

Semoga harapan dan niat baik pemerintah ini, bisa segera terrealisasi, sehingga warga miskin pun dapat mengecap hidup yang lebih baik di tahun baru ini.

copied :)

Selasa, 20 Desember 2011


Pamswakarsa Mesuji Akui Dibekingi Brimob dan TNI
MI/Ramdani/sa

Pamswakarsa Mesuji Akui Dibekingi Brimob dan TNI 



DUGAAN
 keterlibatan aparat negara dalam pembantaian warga Mesuji di Lampung dan Sumatra Selatan atas sengketa tanah di wilayah tersebut kian terkuak. Mantan pamswakarsa perusahaan perkebunan dalam kasus itu mengaku pembunuhan keji itu dibekingi Brimob dan TNI. 

"Yang di film (video), kejadian yang ditayangkan TV itu memang benar ada. Kalau ada yang mengatakan rekayasa, saya bertanggung jawab dan siap menunjukkan lokasinya," kata mantan pamswakarsa perkebunan PT Silva Inhutani, Trubus, dalam konferensi pers di kantor Kontras, Jakarta, kemarin. 

Dalam video itu tampak sejumlah orang mengenakan seragam Brimob dan TNI dengan membawa senjata berada di lokasi pembunuhan. Menurut Komnas HAM, PT Silva Inhutani adalah satu dari tiga perusahaan yang paling banyak terlibat sengketa tanah dengan warga (Media Indonesia, 16/12). 

Trubus menjelaskan pamswakarsa perkebunan tidak dipersenjatai dengan senjata api. "Kami diminta membawa golok atau pisau. Kami berani karena di belakang kami ada aparat dan Brimob," paparnya. 

Lebih lanjut Trubus mengungkapkan jumlah pamswakarsa yang bertugas mengamankan hutan tanaman industri milik PT Silva Inhutani sebanyak 200 orang. Ia juga menyebut Daniel, warga negara Malaysia, sebagai komandan pamswakarsa. "Bagaimana mungkin pamswakarsa yang jumlahnya 200 orang mengusir ribuan warga desa," tuturnya. 

Salah satu korban di Mesuji, Lampung, Wayan Sukadana, pun menyebut Daniel sebagai pemimpinnya (pamswakarsa). "Dia manajer lapangan yang wujudnya manusia, tetapi hatinya binatang," ujarnya. 

Mediator advokasi korban pembantaian, Saurip Kadi, menambahkan sangat tidak mungkin pamswakarsa mengusir petani di wilayah Mesuji tanpa ada beking aparat. "Kita tahu ada negara dan pemerintah, tapi yang berkuasa secara riil adalah uang dan senjata dalam konteks tanah," tukasnya. 

Menurut laporan keluarga warga, ada 30 orang korban tewas dan ratusan lainnya luka-luka dalam pembantaian tersebut. 

3.000 warga mengungsi 

Saat ini, ada sekitar 3.000 warga Mesuji, Lampung, yang mengungsi sejak rumah mereka digusur dan dibakar. Dari jumlah itu, sekitar 700 anak tidak bisa bersekolah. 

"Kami minta pemerintah memberikan jaminan dan mengembalikan hak-hak yang sebelumnya kami miliki," kata saksi kekejaman pamswakarsa di Mesuji, Mathius Totok Nugroho. 

Terkait dengan dugaan keterlibatan Brimob dalam kasus itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo menyatakan sudah ada dua anggotanya yang telah diproses. "Kalau terbukti, nanti ada pidananya," ujarnya di Mabes Polri. 

Sebelumnya di Semarang, Jawa Tengah, Timur menegaskan Polri tidak akan menarik Brimob dari Mesuji. Keberadaan polisi di tempat itu justru untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum lebih lanjut. 

Pada bagian lain, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono membantah keterlibatan anggota TNI dalam pembantaian itu. Menurutnya, keberadaan TNI di lokasi kejadian justru untuk melerai pertikaian. "Jika ada foto tentang anggota TNI, itu sehabis kejadian," pungkasnya. (*/Fid/HT/TT/NV/X-5)

sumber :



 Media Indonesia

Kekerasan Mesuji

*Keberpihakan pemerintah kepada perusahaan telah menyebabkan rakyat kecil menderita dan,

*pengeluaran ijin lahan ribuan hektar tidaklah gratis,

maka kata yang tepat untuk menggambarkan Kekerasan Mesuji adalah satu kata yaitu :

" Wani Piro? "

sumber : Hasan Alhabshy/detikcom.